Dibalik Sejarah Menuju Puncak Peradaban RI

  • Bagikan
Istana Kadriah terletak tepat di persimpangan sungai Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas. (Suara.com/Rahmad Ali)
banner 468x60

“Sultan Hamid II  lahir di Pontianak pada 12 Juli 1913. Beliau adalah putra sulung Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie pendiri kasultanan Kadriah Pontianak. Sosok penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia itu wafat di Jakarta, pada 30 Maret 1978″

triggernetmedia.com – Jika Anda tengah berkunjung ke Pontianak, jika menyukai sesuatu yang berkaitan dengan sejarah maka mengunjungi Istana Kadriah harus masuk daftar tempat yang harus didatangi.

Bangunannya terletak di lahan seluas 25 m x 100 m beralamat di Gg. Tj. Raya No.1, Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Tim, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Istana Kadriah berada tepat di persimpangan sungai, yakni Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas.

Bertolak tidak lebih dari 5 kilometer dari pusat kota Pontianak, istana yang didirikan pada 23 Oktober tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al Kadrie ini banyak menyimpan koleksi sejarah yang masih berjejeran rapi.

Salah satunya adalah lembaran transkrip naskah perancangan burung Garuda sebagai simbol bangsa Indonesia.

Rancangan lambang negara ini sendiri disusun dalam dua tahap oleh Sultan Hamid II pada 8 Februari 1950 sebelum akhirnya disetujui oleh Presiden Soekarno melalu PP Nomor 66 tahun 1951.

“Latar belakang gambar yang saya ciptakan pertama mengambil figur burung Garuda memegang perisai Pancasila berubah menjadi figur burung elang rajawali yang dikalungkan perisai Pancasila dan saya namakan burung Rajawali-Garuda Pancasila. Agar prosesi bangsa ini jangan melupakan peradaban bangsanya dari mana dia berasal. Jangan sampai melupakan sejarah puncak-puncak peradabannya seperti pesan paduka yang mulia (Soekarno),” seperti yang tertulis dalam transkrip Sultan Hamid II pada 15 April 1967 dengan perubahan ejaan.

Baca juga  Obat Sariawan Alami, Aman untuk Anak-anak

Lantaran itu, Juru Pelihara (Jupel) Istana Kadriah Syarif Kasim Al Kadrie berharap Sultan Hamid II menjadi pahlawan nasional lantaran jasanya telah melukiskan lambang negara.

“Udah sering diajukan menjadi pahlawan nasional dari sejak pak SBY hingga pak Jokowi. Insyaallah kebenaran akan muncul, kita sabar saja,” ujarnya Jumat (26/7).

Syarief bercerita Sultan Hamid II pernah bersekolah di Sekolah Akademi Militer Belanda (Koningklij Militaire Academy) di Breda, Belanda. Dirinya pernah menjadi ajudan istimewa Ratu Wilhelmina Belanda.

“Dulu sebelum kemerdekaan, Sultan Hamid II ini ajudannya ratu Belanda, Bu Helmina. Beliau satu sekolah sama bung Karno di Belanda tapi tidak tahu bagaimana bisa crash begitu,” ujarnya.

 

Filosofi Istana Kadriah

Syarif kembali bercerita, pada waktu pendiriannya, Syarif Abdurrahman Alkadrie menyisiri Sungai Kapuas sepanjang 1100 meter. Dalam penyisiran itu, Syarif Abdurrahman dihadapkan pada tantangan yang diberikan oleh para hantu kuntilanak yang seringkali menghalanginya ketika ia hendak membuka lahan hutan di sepanjang Sungai Kapuas.

Menurut cerita Syarif, dari nama kuntilanak itulah nantinya nama Pontianak berasal. Untuk menentukan lokasi dimana istananya akan dibangun, Syarif Abdurrahman kemudian melepaskan tiga kali tembakan meriam ke udara.

Baca juga  Dorong Kinerja Ekspor Pertanian, Kementan Siapkan Aplikasi IMACE

Tiga titik jatuhnya meriam tersebutlah yang saat ini menjadi lokasi pendirian Istana Kadriah, Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman serta lokasi pemakaman anggota keluarga Kesultanan Pontianak.

“Pohon yang tadinya dihuni oleh kuntilanak susah di tebang, akhirnya Sultan berdoa agar kuntilanak tersebut dipindahkan. Setelah itu pohon tersebut kini dijadikan tiang masjid,” ujarnya

Sama seperti keraton-keraton Melayu lainnya yang ada di Kalimantan Barat, para pengunjung dapat menemukan beberapa senjata meriam di halaman depan istana ini.

Sementara itu, istana yang didominasi oleh warna kuning, para pengunjung dapat menemukan berbagai foto-foto dan kisah sejarah dari istana Kadriah. Beberapa ruangan pribadi milik keluarga kesultanan juga dibuka untuk umum, walaupun terdapat beberapa larangan ketika pengunjung luar memasukinya.

Mesjid Jami’ Sultan Abdurrahman sendiri terletak sekitar 200 meter dari lokasi istana. Oleh masyarakat sekitar, mesjid ini masih sangat aktif digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan hingga saat ini.

“Jadi filosofinya ketika Sultan duduk di kursi ini, akan menghadap ke masjid. Artinya harus selalu mengingat Tuhan walau pun menjadi penguasa,” ujarnya.

“Di sebelahnya ada makam, artinya saat hidup harus mengingat mati agar bahagia dunia akhirat,” tutupnya.

Banyak yang bisa Anda lihat mengenai sejarah Burung Garuda dan Sultan Hamid II ini di Istana Kadriah.

suara.com

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *